Langsung ke konten utama

Belajar Jadi Pembantu di Sekolah



Bun, bagaimana sikap Bunda seandainya anak kita di sekolah diajari jadi pembantu? Ditanggapi secara positif atau negatif bun? Beberapa waktu lalu ada seorang wali murid yang entahlah enggak tahu itu namanya, entah kesal atau gimana setelah bercakap-cakap dengan seorang guru, tiba-tiba berkata, “Kalau begitu anakku jadikan pembantu ja, enggak usah sekolah.”

Usut punya usut ternyata sebelumnya mereka bercakap-cakap tentang perkembangan anak. Sang guru mengatakan bahwa si anak ini memang untuk kemampuan calistungnya masih kurang, namun kemampuan bersosialisasinya sangat bagus, mudah bergaul dan punya rasa empati yang tinggi terhadap lingkungan dan teman-temannya. Suka membantu sesama, teman ataupun gurunya. Mendengar penjelasan sang guru, Ibu wali murid tadi justru marah dan salah sangka kalau anaknya sering disuruh bantuin ini dan itu dan menganggap sang anak diperlakukan seperti pembantu. Orang sekolah kok malah disuruh ini itu enggak dibelajari biar pintar, bisa baca, nulis dan hitung.
Hmm... gimana ya cara ngejelasinnya. Bukannya sok ngeremehin tapi ini juga berkaitan dengan latar belakang pendidikan orang tua. Lebih susah kayaknya memberitahu orang yang kurang mau belajar dan mendengarkan. Mungkin tidak asing lagi bagi mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan, bahwa ada banyak sekali kecerdasan. Tidak hanya sebatas kecerdasan intelektual semata dan salah satunya adalah kecerdasan emosi dan spiritual. Bahkan digadang-gadang dua kecerdasan ini akan lebih menentukan kesuksesan seseorang daripada kecerdasan intelektual.
Sebenarnya yang membuat saya tertarik dari kejadian ini adalah hikmah dibalik pembelajaran jadi pembantu. Saya rasa sang guru tak berniat menjadikan atau mengajari sang anak jadi pembantu. Karena ini hanya berupa anggapan orang tua yang merasa anaknya diperlakukan seperti itu.
Bukankah kalau si anak suka membantu orang lain, perhatian, punya simpati dan empati pada sesama, akan sangat baik untuk perkembangannya. Justru jika anak bersikap demikian, ini merupakan kesempatan yang bagus  bagi orang tua ataupun guru untuk mengarahkan dan membimbing potensi anak lebih berkembang lagi.
Pembelajaran atau membiasakan anak membantu orang lain, teman, ataupun guru di sekolah bisa jadi
malah membantu orang tua di rumah agar anak terbiasa mandiri, mengerjakan minimal pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Misal merapikan tempat tidurnya sendiri, mau mencuci pakaian atau tempat makannya. Nah kalau sudah begini siapa coba yang merasa terbantu? Pada akhirnya orang tua juga kan yang merasa senang karena anaknya mau membantu beres-beres rumah atau pekerjaan orang tua. Di mana anak zaman sekarang susah kalau dimintai tolong mengerjakan pekerjaan rumah atau bantuin pekerjaan orang tua. Apalagi kalau sudah lengket sama apa itu perangkat digital. Haduh... berasa dunia milik sendiri enggak ada yang boleh ganggu. Kalau anak sudah begini harus mulai waspada bun. Bahaya!
Nah sedikit berbagi pengalaman tentang kecerdasan emosi ya... sebenarnya tidak cara yang paling ampuh untuk mengajarkan kecerdasan emosi ke anak selain dengan cara teladan orang tua. Ini cara paling efektif dan ampuh untuk dilakukan, menurut saya. Apalagi kalau diterapkan untuk anak usia dini. Penting banget... Bunda bisa tuh mulai dari mengenalkan jenis-jenis emosi dan ekspresinya. Seperti emosi marah, senang, takut, sedih dan lain sebagainya. Kemudian bisa dilanjut dengan membacakan cerita yang berkaitan dengan pengelolaan emosi.  Saya biasanya menggunakan media gambar dan buku sebagai alat bantu dalam bercerita. Biar lebih mengena dan diingat anak.
Media seperti ini banyak kok Bun dijual dipasaran, namun untuk lebih amannya belilah di tempat atau distributor yang memang dah expert dibidang itu. Seperti buku-buku yang sudah terpercaya layaknya halo balita, seri telaan rasulullah dan cerdas sosial emosianal. Buku-buku tadi sangat bagus dan recommend untuk mengasah kecerdasan emosi anak.

Kunci dari ini semua adalah keteladanan orang tua. Anak ibarat cermin orang tuanya. Jika orang tua mampu memberikan keteladan yang baik dalam pengelolaan emosi  dan apapun hal itu, insyaallah proses mendidik anak pun akan diberi kemudahan. Semoga jadi anak sholeh dan sholehah, amiin.

Komentar

  1. Benar sekali, kecerdasan anak sangat berbeda-beda. Dan kebanyakan orang tua menginginkan kecerdasan kognitif satu satunya target dalam sekolah. Padahal masih banyak kecerdasan lainnya. Sulit sekali memahamkan pada orang tua jika si anak jangan dipaksakan sesuai kehendaknya. Kebetulan saya seorang guru sering menemui orang tua yang menginginkan kecerdasan kognitif yang utama. Padahal anak tersebut punya kecerdasan afektif dan psikomotor yang baik loh tapi dipaksa rangking satu hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bun...jadi serba salah kalau gini. ya semoga banyak orang tua yang sadar akan hal ini. membiarkan anak berkembang sesuai potensinya. tugas kita sebagai ortu mengarahkan, membimbing dan mendampingi

      Hapus
  2. The 15 Best Las Vegas Casinos with Slot Machines - MapYRO
    Las Vegas, Nevada. The casino has 충청남도 출장샵 over 1,400 slot machines and over 태백 출장안마 2,700 table 천안 출장마사지 games 광명 출장샵 including blackjack, roulette, poker, 여수 출장안마 craps,

    BalasHapus

Posting Komentar