Langsung ke konten utama

5 Mitos Sebelum Memulai Usaha

Banyak orang yang sudah tahu bahwa dengan menjadi seorang pewirausaha itu merupakan salah satu cara untuk meraih kesuksesan dan kemapanan ekonomi dengan cepat. Namun kebanyakan orang juga masih enggan untuk terjun didalamnya. Merasa lebih nyaman dengan menjadi seorang pegawai kantoran ketimbang masuk ke dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian.

Memang benar, dengan menjadi seorang wirausaha berarti kita berada pada dunia yang tidak pasti dan keluar dari zona aman. Itu semua merupakan bagian dari resiko sebuah usaha. Namun apakah Emak pernah berfikir, resiko apakah yang sering dilupakan banyak orang dari berwirausaha? Ya resiko menjadi kaya. Resiko ini yang masih sering terlupakan karena kebanyakan dari mereka lebih sering memikirkan resiko kegagalannya.

Berikut ini ada beberapa mitos yang berkaitan erat dengan kegiatan sebelum memulai usaha :
           
     Bekerja dari rumah jauh lebih santai daripada kerja kantoran.

Jangan salah memutuskan untuk bekerja dirumah bukan berarti membuat Emak jauh lebih santai. Kenyataannya malah melebihi jam kerja para pegawai kantoran. Apalagi disaat awal memulai dan membangun usaha. Emak harus rela bekerja lebih lama dari yang semestinya. Sebab harus mengurus dan menangani semua aspek bisnis sendiri. Hanya saja keuntungannya Emak jauh lebih bebas mengatur dan mengontrol jadwal Emak sendiri dan bisa disesuaikan dengan waktu produktif Emak. Tinggal kuncinya bagaimana mengatur waktu dengan baik dan konsisten menjalankannya.

           Bisa terbebas dari bos.

Benarkah? Pernahkah Emak mendengar suatu ungkapan bahwa tamu adalah raja? Begitu juga dengan klien atau customer. Mereka itu bagaikan raja atau bos yang harus Emak perlakukan dan layani dengan baik. Kalau tidak, mereka bisa kabur alias pindah ke pesaing Anda. Lho Mak ... enggak mau kan kehilangan calon customer? So, berikan layanan terbaik buat mereka. Dengan memutuskan  menjadi seorang pewirausaha Emak harus siap memiliki banyak bos karena mereka adalah calon Customer Emak. Keuntungannya adalah Emak bebas memilih siapa saja yang berhak bekerjasama dan siapa saja yang tidak sehingga dapat menciptakan suatu kultur perusahaan yang sesuai dengan keinginan Emak.
    
      Bekerja sambil mengasuh anak.
     
     Hal ini bisa Emak lakukan jika Emak mampu untuk memanage waktu dengan baik. Kapan harus pegang anak dan  kapan harus mengurusi bisnis. Tanpa memanagement yang baik, Emak akan kuwalahan untuk mengurusi semuanya. Alih-alih akan selesai sesuai target, ujung-ujungnya akan membuat berantakan dan tak terselesaikan dengan baik.
          Perlunya mengetahui aspek hukum untuk bisnis skala kecil.

Banyak pemilik bisnis kecil (UKM) menganggap remeh akan hal ini. Dibilang penting ya penting, dibilang tidak ya memang penting untuk diketahui dan diperhatikan. Menurut mereka banyak yang menganggap bisnis mereka terlalu kecil untuk dikelola secara profesional sesuai dengan aturan hukum. Padahal dengan bergabung dalam satu wadah usaha UKM misalnya, maka aset pribadi Emak akan terlindungi dari segala masalah perusahaan atau ketika terjadi kebangkrutan.
5.     
           Harus punya banyak uang untuk memulai usaha.

Mungkin memang benar adanya, namun modal tidak hanya berbentuk uang. Semangat, kemauan, niat, pantang menyerah, kreativitas adalah modal utama. Banyak yang ragu bahkan berpikir seribu ulang untuk memulai usaha karena tak cukup banyak uang. Padahal banyak bisnis yang bisa dilakukan dengan modal minimal dan mendapatkan hasil yang maksimal. Sebut saja sebagai reseller, marketer, usaha dibidang jasa dan masih banyak lagi jikalau kita mau berpikir untuk lebih kreatif lagi menciptakan peluang bisnis.

Jadi bagaimana Mak, apakah masih ragu dan minder untuk mulai berbisnis?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Jadi Pembantu di Sekolah

Bun, bagaimana sikap Bunda seandainya anak kita di sekolah diajari jadi pembantu? Ditanggapi secara positif atau negatif bun? Beberapa waktu lalu ada seorang wali murid yang entahlah enggak tahu itu namanya, entah kesal atau gimana setelah bercakap-cakap dengan seorang guru, tiba-tiba berkata, “Kalau begitu anakku jadikan pembantu ja, enggak usah sekolah.” Usut punya usut ternyata sebelumnya mereka bercakap-cakap tentang perkembangan anak. Sang guru mengatakan bahwa si anak ini memang untuk kemampuan calistungnya masih kurang, namun kemampuan bersosialisasinya sangat bagus, mudah bergaul dan punya rasa empati yang tinggi terhadap lingkungan dan teman-temannya. Suka membantu sesama, teman ataupun gurunya. Mendengar penjelasan sang guru, Ibu wali murid tadi justru marah dan salah sangka kalau anaknya sering disuruh bantuin ini dan itu dan menganggap sang anak diperlakukan seperti pembantu. Orang sekolah kok malah disuruh ini itu enggak dibelajari biar pintar, bisa baca, nul...

Masihkah Merasa Tabu Mengajari Sex Education untuk Anak

Beberapa waktu lalu lagi heboh dengan pemberitaan buku bacaan anak yang terdapat konten pendidikan sex. Dan ini membuat beberapa pihak ada yang merespon positif, ada juga yang kurang berkenan. Di sisi lain juga banyak yang menanggapinya jauh lebih bijak. Memang tidak salah mengajari sex education untuk anak, cara penyampaiannya saja mungkin yang harus lebih santun. Bahkan sex education itu sendiri memang harus diajarkan di usia dini agar anak paham, tidak salah mengartikan dan sebagai goalnya anak mampu untuk menjadi dirinya. Namun masih ada juga dikalangan masyarakat atau orangtua yang berpikir mengajarkan sex education merupakan hal yang tabu. Perlu dipahami terlebih dahulu oleh para orangtua bahwa sex education itu bukan hanya masalah hubungan intim, namun mencakup hal yang lebih luas. Mengenalkan anggota tubuh dan fungsinya, mengenalkan jenis kelamin, memisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan juga merupakan bagian dari  sex education. Menurut dr. Boyke ada b...

Peluang Usaha yang Ramah Bagi Ibu Rumah Tangga

Ibu pekerja iri dengan Ibu rumah tangga yang selalu bisa menemani anak di rumah. Ibu rumah tangga iri dengan Ibu pekerja yang tiap hari bisa tampil bersih, rapi, banyak uang dan banyak teman. Hehehe... rumput rumput tetangga memang kelihatan lebih hijau ya dari rumput sendiri. Ibu pekerja maupun Ibu rumah tangga tak perlu bersedih, sudah punya jalannya sendiri-sendiri. Menjadi IRT pun bukan berarti enggak bisa tampil bersih, rapi dan punya uang sendiri, sama asyiknya kok dengan mereka yang menjadi Ibu pekerja. Sama-sama capeknya dan sama-sama beratnya. Hehe... terlepas dari itu semua Ibu rumah tangga pun bisa produktif, tidak hanya angkrung-angkrung dan nodong suami saja. Banyaknya media sosial didukung dengan semakin cepatnya koneksi internet, mengubah gaya hidup Ibu muda masa kini. Anda masih bisa bersosialisasi melalui media sosial tanpa harus keluar rumah. Disamping itu masih bisa juga mendapatkan banyak informasi dengan cepat tanpa batas ruang dan waktu. Menjadi Ibu rumah t...